Khasiat Sebuah Tawa
Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu kadang membuat teman teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya” tanya gurunya.
Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu kadang membuat teman teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya” tanya gurunya.
“Wow, enak
saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul,” timpal Salsa sambil meringkikkan
tertawa khasnya. Ya , Salsadilla Cemara Lima, seorang gadis luar Jawa yang
menempuh pendidikan di kota ini. Tak heran, seorang guru pun takluk dengan
suara tawa renyahnya, apalagi teman teman sepantaranya yang setiap hari
mendengar suara indah Salsa. Adit , penghuni bangku yang bersebelahan persis dengan
Salsa adalah salah satu korban gurihnya tawa dari seorang gadis asal maluku
tersebut.
Bagaimana tidak, tiap hari Adit selalu
mendengar suara Salsa hingga ia tak bisa membedakan antara Salsa dan teman yang
lain. Dalam pikiran Adit hanya ada suara Salsa, Salsa dan Salsa karena kerapnya
mendengar ringkikkan gadis itu.
“Tugasmu
endi, Dit?” tegur Pak Guru.
“Lha kulo
ajeng mudeng pripun, angger badhe mirengaken guru, suara Salsa ngguya ngguyu
mboten jelas sebabe mesthi menggelegar ngantos sudut kelas,” kata Adit dengan
menunjukan sosok asli pedalaman Bogeman. Pak guru hanya tersenyum sambil
mengusap dahi untuk menambah kesabaran atas tingkah murid muridnya.
Suatu hari, Salsa terkena musibah
terjatuh dari sepeda motor yang ditumpanginya. Ia tidak masuk sekolah hingga
seminggu lamanya. Sehari dua hari memang tak terasa perbedaan yang dirasakan
oleh Adit atas ketidakhadiran rekan sebangkunya tersebut. Namun setelah
seminggu lamanya, Adit merasakan ada hal yang kurang saat ia melalui hari hari
di kelas. Adit hanya terdiam,melihat bangku sampingnya yang kosong tak
berpenghuni selama beberapa hari, melongo kesana kemari tanpa ada protes seperti
saat Salsa tertawa keras disampingnya. Ia selalu teringat dengan candaan
tentang burung yang membuat satu kelas heboh, terutama Adit yang tertawa dalam
diam.
Sosok Adit yang pendiam menyimpan
banyak perasaan yang tersembunyi terhadap Salsa. Berawal dari kebencianya
terhadap suara bising tawa Salsa, yang akhirnya merindukan suara tawa Salsa
saat menghiasi hari harinya dikelas. Tetapi Salsa sudah beberapa hari tidak
masuk, dan ia merasa bahwa ada bagian dari rangkaian hari harinya yang hilang.
Ya , tawa renyah gadis tersebut.
Tok tok tok..
“Assalamualaikum .. “ suara pria dari
luar pintu depan.
“Iya, sebentar,” teriak Salsa dari
kamarnya menuju pintu depan. “Hah? A.. Adit?” suara terbata bata Salsa yang
heran dengan kehadiran Adit.
“Ini buat kamu, semoga lekas sembuh,”
ujar Adit dengan memberikan aneka snack dan roti kepada Salsa. “Ini buat
suaramu biar bisa ketawa lagi dikelas,” senyum Adit dengan mengeluarkan buah
khusus dari dalam tas kecilnya.
“I.. Iya ,Dit,” suara salsa yang masih
terbata bata sambil menerima pemberian dari Adit.
“Aku pamit dulu ya, assalamualaikum,”
salam dari Adit yang langsung pergi meninggalkan rumah Salsa.
Gadis itu hanya terdiam dan tidak
menyangka dengan kejadian yang baru saja terjadi. Seorang Adit yang super duper
dingin dan pendiam tiba tiba datang kepada Salsa dengan membawa sesuatu untuk
gadis tersebut.
Saat ia kembali ke kamarnya, di
bukalah isi tas plastik pemberian Adit. Salsa terkejut dengan adanya buah
belimbing dengan hiasan kertas di sisi buah tersebut. Dengan rasa heran, Salsa
membuka dan membaca kertas tersebut dengan perlahan.
Sa, ini buah untuk mengembalikan
stamina dan tentunya suara kamu, agar bisa tertawa kembali menghiasi kelas, dan
juga menghiasi hari hari rekan sebangkumu. Hehehe..
Salsa membaca kertas tersebut dengan
senyuman dan hembusan napas tawa dari hidungnya. Ia tak menyangka Adit bisa
melakukan hal seperti ini setelah seringkali menghujatnya karena suara tawa
bising dan ringkikan yang memenuhi hari hari rekan sebangkunya tersebut.
Salsa merasa senang sekaligus bahagia
dan bersemangat untuk kembali ke sekolah bersama teman temanya, khususnya untuk
bersama sama dengan Adit, rekan sebangku yang telah lama berpisah.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCoba bandingkan dengan koreksi berikut. (Maaf yang ini tanpa alinea karena komen di blog alinea jadi hilang)
BalasHapusGadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen.
“Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya? ” tanya gurunya.
“Wow, enak saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul, ” timpal Salsa sambil meringkikkan tertawa khasnya.
Ya, Salsadilla Cemara Lima, seorang gadis luar Jawa yang menempuh pendidikan di kota ini. Tak heran, seorang guru pun takluk dengan suara tawa renyahnya, apalagi teman-teman sepantaranya yang setiap hari mendengar suara indah Salsa. Adit, penghuni bangku yang bersebelahan persis dengan Salsa adalah salah satu korban gurihnya tawa dari seorang gadis asal Maluku tersebut.
Bagaimana tidak, tiap hari Adit selalu mendengar suara Salsa hingga ia tak bisa membedakan antara Salsa dan teman yang lain. Dalam pikiran Adit hanya ada suara Salsa, Salsa dan Salsa karena kerapnya mendengar ringkikkan gadis itu.
“Tugasmu endi, Dit? ” tegur Pak Guru.
“Lha kulo ajeng mudeng pripun, angger badhe mirengaken guru, suara Salsa ngguya-ngguyu mboten jelas sebabe mesthi menggelegar ngantos sudut kelas, ” kata Adit dengan menunjukan sosok asli pedalaman Bogeman. Pak guru hanya tersenyum sambil mengusap dahi untuk menambah kesabaran atas tingkah murid-muridnya.
Suatu hari, Salsa terkena musibah terjatuh dari sepeda motor yang ditumpanginya. Ia tidak masuk sekolah hingga seminggu lamanya. Sehari dua hari memang tak terasa perbedaan yang dirasakan oleh Adit atas ketidakhadiran rekan sebangkunya tersebut. Namun setelah seminggu lamanya, Adit merasakan ada hal yang kurang saat ia melalui hari hari di kelas. Adit hanya terdiam, melihat bangku sampingnya yang kosong tak berpenghuni selama beberapa hari. Melongo ke sana kemari tanpa ada protes seperti saat Salsa tertawa keras disampingnya. Ia selalu teringat dengan candaan tentang burung yang membuat satu kelas heboh, terutama Adit yang tertawa dalam diam.
Sosok Adit yang pendiam menyimpan banyak perasaan yang tersembunyi terhadap Salsa. Berawal dari kebencianya terhadap suara bising tawa Salsa, yang akhirnya merindukan suara tawa Salsa saat menghiasi hari harinya di kelas. Tetapi Salsa sudah beberapa hari tidak masuk, dan ia merasa bahwa ada bagian dari rangkaian hari harinya yang hilang. Ya , tawa renyah gadis tersebut.
Tok tok tok..
“Assalamualaikum .., “ suara pria dari luar pintu depan.
“Iya, sebentar, ” teriak Salsa dari kamarnya menuju pintu depan. “Hah? A.. Adit?” suara terbata-bata Salsa yang heran dengan kehadiran Adit.
“Ini buat kamu, semoga lekas sembuh, ” ujar Adit dengan memberikan aneka snack dan roti kepada Salsa. “Ini buat suaramu biar bisa ketawa lagi di kelas, ” senyum Adit dengan mengeluarkan buah khusus dari dalam tas kecilnya.
“I.. Iya ,Dit, ” suara Salsa yang masih terbata bata sambil menerima pemberian dari Adit
“Aku pamit dulu ya, assalamualaikum, ” salam dari Adit yang langsung pergi meninggalkan rumah Salsa.
Gadis itu hanya terdiam dan tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja terjadi. Seorang Adit yang super duper dingin dan pendiam tiba tiba datang kepada Salsa dengan membawa sesuatu untuk gadis tersebut.
Saat ia kembali ke kamarnya, di bukalah isi tas plastik pemberian Adit. Salsa terkejut dengan adanya buah belimbing dengan hiasan kertas di sisi buah tersebut. Dengan rasa heran, Salsa membuka dan membaca kertas tersebut dengan perlahan.
“Sa, ini buah untuk mengembalikan stamina dan tentunya suara kamu agar bisa tertawa kembali menghiasi kelas, dan juga menghiasi hari hari rekan sebangkumu. Hehehe .. .”
Salsa membaca kertas tersebut dengan senyuman dan hembusan napas tawa dari hidungnya. Ia tak menyangka Adit bisa melakukan hal seperti ini setelah seringkali menghujatnya karena suara tawa bising dan ringkikan yang memenuhi hari hari rekan sebangkunya tersebut.
Salsa merasa senang sekaligus bahagia dan bersemangat untuk kembali ke sekolah bersama teman-temannya, khususnya untuk bersama-sama dengan Adit, rekan sebangku yang telah lama berpisah.